Menakar Budaya Literasi di Indonesia

Songan's student read

Ilustrasi Membaca (dok. pribadi)

Indonesia menduduki peringkat dua terendah dalam tingkat literasi dunia.

Sejak tahun 1971, Indonesia tercatat mengalami peningkatan literasi. Penelitian Dr. Fasil Jalal dan Nina Sardjunani yang dipublikasikan di Journal AED – DVV International menyebutkan tingkat literasi di Indonesia meningkat signifikan pada masa pembangunan pascakemerdekaan antara tahun 1971 hingga 1990. Selama periode tersebut, pemerintah sedang gencar mengembangkan fasilitas dan infrastruktur pendidikan. Pemerintah juga mencanangkan wajib belajar 6 tahun (1984) yang kemudian berkembang menjadi wajib 9 tahun (1990) dan 12 tahun (2016).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru pun menunjukkan tingkat melek huruf penduduk Indonesia usia 15 tahun ke-atas semakin baik dari tahun ke tahun. Dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2009-2015, persentase penduduk yang melek huruf telah melampui angka 90%.

Meski Indonesia telah mampu membuat penduduknya dapat mengenal huruf, ternyata hal ini belum cukup. Pada Maret 2016, Indonesia sempat heboh karena disebut-sebut menduduki peringkat dua terendah dalam tingkat literasi. Tingkat literasi yang dimaksud adalah perilaku yang berkaitan dengan literasi seperti kebiasaan membaca dan menulis.

Studi ini dilakukan oleh John W. Miller, Presiden Central Connecticut State University di New Britain, CT, Amerika Serikat. World’s Most Literate Nations Ranked ini meneliti tingkat literasi pada 200 negara, namun hanya 61 negara yang dirilis. Indikator penilaian yang digunakan ialah jumlah dan ukuran perpustakaan dan tingkat pembaca koran.

Negara-negara Nordik (Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark dan Swedia) menduduki lima peringkat teratas sebagai negara dengan tingkat literasi terbaik di dunia. Sementara itu, Amerika Serikat, di mana penelitian ini dilakukan, justru menduduki peringkat 7. Indonesia tercatat menduduki peringkat 61, setingkat di bawah Thailand dan di atas Botswana.

Miller menyebutkan durasi pendidikan wajib dan biaya pendidikan serta nilai ujian sekolah tidak memiliki hubungan yang sangat berarti. Penelitian ini justru memperlihatkan tren yang bertolak belakang. Meski kewajiban untuk menempuh pendidikan semakin tinggi, praktik literasi, dalam hal ini kebiasaan membaca tidak mengalami peningkatan yang berarti.

Praktik literasi sesungguhnya mengenai kebiasaan membaca sekaligus menulis. Masyarakat Indonesia secara turun-temurun mewarisi tradisi lisan, menyebarkan informasi secara lisan, tanpa tulisan. Barangkali hal ini berkaitan dengan tingkat melek huruf yang sangat rendah pada masa lalu. Hanya kalangan tertentu yang dapat menulis huruf Pallawa pada prasasti.

Jatna Supriatna, dosen Biologi Universitas Indonesia juga mengamini hal ini. Dalam sebuah kesempatan, Jatna menyayangkan tingkat literasi masyarakat Indonesia sangat rendah, terutama menulis.

“Indonesia tidak punya tradisi menulis, lebih banyak bicara tanpa menuliskannya,” ungkap Jatna.

Bagaimana mau menulis, jika membaca saja tak ingin? Tradisi lisan yang diwariskan pun bisa saja berubah termakan waktu. Penyampaian informasi oleh komunikator kepada komunikan dapat saja berbeda karena multiinterpretasi.

Jika merasa tidak percaya diri, tidaklah perlu membaca dan menulis yang serius. Mulailah dengan kemauan yang baik mencerna informasi yang diterima serta mengkritisi dengan bukti-bukti yang memadai. Jika informasi telah terbukti benar, bolehlah kita menuliskan dan menyebarkannya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *