Pengalaman Bekerja dengan Orang Asing

IMG20161223180216[1]
Foto bersama pengurus yayasan dan staf AF Bali (23/12)
Katanya bekerja dengan orang asing itu susah. Bagi saya, bekerja sama dengan mereka adalah belajar bersama.

Pengalaman pertama saya bekerja dengan orang asing adalah di Alliance française Bali (AF Bali). Sebagai lembaga kerja sama Prancis dan Indonesia, tentu saya akan lebih sering berinteraksi dengan orang Prancis. Meskipun pada kenyataannya saya hanya bertemu satu atau dua orang Prancis di kantor. Tapi, komunikasi dalam bahasa Prancis acap kali dilakukan dengan jaringan Kedutaan Besar Prancis dan lembaga Indonesia-Prancis lainnya.

Ketika bergabung dengan AF Bali, saya merasakan tantangan yang luar biasa. Kendala bahasa masih jadi momok utama kala itu. Sekalipun saya pernah belajar bahasa Prancis cukup lama. Pada praktiknya, saya tidak banyak mengerti jika ada orang yang berbicara bahasa Prancis. Hanya satu dua kata yang berhasil saya artikan. Bukan dalam bentuk kalimat yang utuh.

Belum juga lancar berbahasa Prancis, saya harus bekerja satu ruangan dengan direktris saya. Dia perempuan, muda dan orang Prancis. Namanya Amandine. Awalnya saya merasa tidak percaya diri. Setelah melewati masa bekerja lebih dari satu tahun ini, saya justru bersyukur bisa satu ruangan dengan direktris. 

Praktik Berbahasa Prancis

Satu ruangan dengan direktris “memaksa” saya untuk berbahasa Prancis. Meskipun, dia memberikan saya peluang untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Tapi, saya merasa rugi jika tidak praktik dengannya. Saya memutuskan berkomunikasi dengan bahasa Prancis dengan direktris saya. Bermula dari kalimat sederhana hingga lebih kompleks.

Direktris saya tidak pernah menyalahkan kalimat saya secara langsung. Dia membiarkan saya bicara apa saja. Terkadang saya berbicara setengah Prancis setengah Inggris. Intinya supaya direktris saya paham. Jika dia sudah paham, dia akan mengulangi kalimat saya dengan susunan kalimat yang benar. Jika saya tidak memaksakan diri, mungkin saya masih tetap tidak bisa berbahasa Prancis.

Diplomatis

Saya belajar berkomunikasi dengan gaya diplomatis dari direktris saya ini. Dulunya, saya terbiasa menyampaikan sesuatu secara langsung, terutama saat berkirim email. Tidak pakai basa-basi. Sebaliknya, direktris saya selalu membuat pendahuluan yang baik saat berkomunikasi dengan rekan kerja di lingkungan Kedubes Prancis hingga rekanan di luar AF Bali. Memang hal itu terkesan berputar-putar. Tapi, itulah diplomatis. Kesan positif harus ditonjolkan agar tidak melukai perasaan rekan kita.

Saya tidak selalu bisa mengirim email secara langsung. Saya takut salah menyampaikan informasi. Sebelum kirim email, saya selalu kirim ke direktris. Jika email dalam berbahasa Prancis, maka dia akan langsung mengoreksi tata bahasa saya. Jika email dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, saya tetap minta pendapat direktris. Apakah ada yang perlu ditambahkan atau tidak.

Positif dan Optimis

Ketika merencanakan program, kadang saya berpikir rencana ini akan kurang berhasil. Tapi, direktris saya ini teramat optimis. Meskipun sedang dalam kondisi yang sulit, bahkan saya hampir membatalkan program itu, sedangkan dia masih tetap optimis bahwa program itu akan berjalan. Karena semangatnya yang menggebu-gebu, saya kembali bangkit. Semuanya pasti bisa dilewati, seberapapun sulitnya. Program yang direncanakan pun berjalan baik.

Direktris sekaligus Sopir

Bukannya saya mau jadi bos, tapi masalahnya saya belum juga bisa menyetir mobil. Alhasil, direktris saya bersedia menyetir mobil saat kami ada pertemuan di luar kantor. Bahkan, dia mau menjemput artis Prancis yang akan tampil hingga membawakan barang-barang untuk kegiatan budaya. Kadang dia juga menjemput tamu-tamu Kedubes Prancis yang berkunjung ke Bali. Hal ini semata-mata untuk mengirit pengeluaran kantor dan lebih akrab dengan tamu. Benar-benar irit karena dia sendiri tidak pernah meminta ganti uang bensin.

Dia memang pimpinan di kantor, tapi bukan berarti tidak mau turun membantu pekerjaan staf lainnya. Direktris saya ini bisa jadi sopir, kadang angkut-angkut barang juga. Kami bersama staf bagian komunikasi (kebetulan perempuan juga), selalu bekerja sama dan berada di balik kegiatan-kegiatan budaya AF Bali.

IMG20161223180437[1]
Trio Comm-Culture et la Directrice!
Beda Budaya, Beda Perspektif

Kami berasal dari negara yang budayanya berbeda. Kebiasaannyan juga berbeda. Perbedaan ini kadang menimbulkan salah paham. Salah satu contoh lucunya penggunaan emoticon di whatsapp. Saya biasa menggunakan emoticon 😁 untuk menunjukkan saya tersenyum hehe. Senyum-senyum setengah tertawa. Nah, menurut direktris saya, emoticon itu berarti menyeringai marah. Nah lho! Sekalipun berbeda. semua masih bisa dibicarakan. Ya, bicarakan semuanya agar tidak salah paham.

Hari ini Amandine telah menyelesaikan tugasnya sebagai direktris AF Bali selama dua tahun. Dia akan kembali ke Prancis dan akan menemukan tempat bekerja yang baru. Sebuah pengalaman yang tak terlupakan bisa bekerja dengannya. Au revoir Amandine!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *