Diuber karena Naik Uber

2016-12-26_09-48-58
Ilustrasi lalu lintas (dok. pribadi)

Perjalanan ke Surabaya yang mengundang bahaya. 

Bahayanya karena naik taksi online di bandara. Ternyata persaingan taksi online dan taksi konvensional sangat ketat di Bandar Udara Juanda, Surabaya.

Sewaktu mendarat dengan selamat di Surabaya, saya dan teman perjalanan saya melenggang santai keluar dari pintu kedatangan. Kami belum tahu akan naik apa ataupun dengan siapa. Satu hal yang terlintas hanya naik taksi online, dalam hal ini Uber.

Selama di Bali, saya cukup sering menggunakan transportasi berbasis aplikasi ini. Jadi, saya kira akan aman saja. Apalagi situasi persaingan di Bali tidak begitu terlihat. Setelah saya memesan Uber di Bandar Udara Juanda, ternyata perkiraan saya salah.

Saya dan teman saya menunggu di area penjemputan penumpang. Kami memesan Uber persis setelah berada di luar pintu Kedatangan. Sopir Uber langsung menghubungi kami dan nada bicaranya agak takut. Dia menanyakan keberadaan kami dan memastikan bahwa kami memang benar-benar penumpang.

“Mbak ini beneran penumpang kan? Bukannya mau mancing-mancing?”

Ya, saya jawab saja iya. Mana mungkin saya mau menipu. Selama menunggu jemputan Uber, banyak jasa transportasi yang datang menghampiri kami. Kami hanya menjawab “sudah ada yang jemput”. Mungkin saja, para penyedia jasa transportasi ini merasa curiga karena kami menunggu cukup lama.

Setelah berdiri dan tak berpindah selama 30 menit, ada satu pria mendekati kami dan langsung menebak bahwa kami sedang menunggu jemputan Uber. Tapi, kami tetap mengelak.

Tak berapa lama, kami ditelpon sopir Uber agar menghampiri ke pinggir jalan. Kami berjalan cukup cepat sambil mendorong trolley. Dengan sigap kami masuk mobil dan memasukkan semua barang.

Setelah kami berada di dalam mobil, tiba-tiba pria yang sedari tadi menawari kami transportasi berbicara kepada sopir Uber dan langsung ikut masuk ke dalam mobil bersama kami. Sontak kami kaget, tapi tidak memberikan reaksi apapun. Kami masih berpikir apa yang akan dilakukannya.

Pria itu mengarahkan sopir Uber menuju area Keberangkatan. Di sana sudah ada tiga orang lainnya yang berjaga dan menghadang laju mobil yang kami tumpangi. Salah satu dari mereka langsung meminta kami turun dari mobil Uber dan menyarankan kami untuk menggunakan angkutan resmi milik bandara.

Sesungguhnya mereka tidak bertindak kasar kepada kami. Mungkin karena kami perempuan. Kami hanya menyayangkan mereka tiba-tiba datang dan menyetop perjalanan kami. Kami pun tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan sopir Uber. Yang jelas, kami langsung diturunkan di area Keberangkatan.

Setelah kami turun dari mobil Uber, kami langsung diserbu para penyedia transportasi lainnya. Tentu harganya lebih mahal dari estimasi Uber. Belum mereka bayar parkir, juga bayar tempat. Wajar saja harganya jadi lebih mahal. Tapi, konsumen akan pilih yang lebih murah.

Kami pun menuju loket taksi resmi bandara. Ya, akhirnya kami pakai jasa taksi resmi bandara. Harganya memang lebih mahal daripada Uber. Tapi setidaknya masih lebih murah daripada taksi lainnya.

Sepanjang perjalanan, kami berbincang sekaligus tercengang. Sopir taksi ini pun mengaku dirinya juga sopir Uber, Grab sekaligus Go-Car. Menarik! Pilihan ini terpaksa dilakukan demi memenuhi kebutuhan hidup.

Sesama sopir taksi pun sesungguhnya tahu siapa saja yang telah menjadi sopir transportasi online. Para sopir ini juga mantan sopir taksi. Ada yang telah beralih ke transportasi online secara penuh. Ada juga yang ‘mendua’, masih bekerja sebagai sopir taksi konvensional sekaligus taksi online.

Kami sangat paham dengan persaingan para penyedia jasa transportasi ini. Tapi, konsumen tentu akan memilih transportasi yang nyaman sekaligus terjangkau. Wajar saja, banyak orang pun memilih Uber atau transportasi online lainnya.

Untuk hal ini, pemerintah harus hadir menengahi masalah ini. Bukan untuk meniadakan salah satunya. Tapi, bagaimana berlaku adil untuk para penyedia transportasi ini, baik yang online maupun konvensional. Kami mau yang murah, kami juga mau dapat penumpang.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *