Dilema Sang Petani

Nonton Bareng Petani Terakhir

“Jani sing ada ane demen megae ka carik…”

Kutipan di atas berarti sekarang tidak ada yang senang bekerja ke sawah. Begitulah keluhan Nyoman Sutama tentang kehidupannya sebagai petani. Menurutnya, pekerjaan petani menempati urutan terbawah dari sisi ekonomi. Periode panen saja hanya setahun dua kali, sedangkan manusia perlu makan setiap hari. Lagi-lagi bagi Nyoman Sutama, hal inilah yang menyebabkan semakin berkurangnya jumlah petani.

Tak berhenti sampai di situ, petani kini menghadapi berbagai masalah. Air tidak mengalir deras seperti dulu. Kondisinya pun tercemar oleh sampah yang terbawa dari selokan perumahan warga. Sawah kian terhimpit. Jumlah panen juga sedikit. Lagi-lagi masalahnya uang.

Penghasilan sebagai petani untuk kehidupan sehari-hari mungkin saja cukup. Tapi, zaman sekarang kebutuhan hidup juga semakin meningkat. Nyoman Sutama juga ingin memugar tembok sanggah-nya. Kadang ingin juga punya barang-barang mewah.

Nyoman Sutama mulai berpikir tentang sumber penghasilan lain. Salah satu yang menarik perhatiannya adalah membangun rumah kos. Tapi darimana modalnya? Cara tercepat adalah melego lahan sawahnya. Dengan bantuan makelar, Nyoman Sutama tak perlu menunggu lama untuk menemukan pembeli lahan. Tapi, ternyata itu tidak mudah.

2016-07-10_10-37-49

Dwitra J. Ariana dan Agung Bawantara selepas pemutaran film Petani Terakhir (foto: Diah).

Dwitra J. Ariana menceritakan kisah Nyoman Sutama melalui film dokumenter bertajuk Petani Terakhir. Apakah Nyoman Sutama adalah petani terakhir yang dimaksud? Mungkin benar jika Nyoman Sutama benar-benar menjual lahan sawahnya.

Dwitra menampilkan kisah pilu Nyoman Sutama sebagai petani dengan merekam kegiatannya sehari-hari. Kamera pun terus mengikuti gerak-gerik Nyoman Sutama beserta tokoh-tokoh lainnya. Hal ini membuat penonton seolah berada di lokasi yang sama. Dalam adegan diskusi, penonton seolah diajak ikut duduk bersama serta mendengarkan obrolan Nyoman Sutama dan kawan-kawan.

Seluruh bagian film ini sangat alami. Tanpa ada wawancara tatap muka dan perkenalan para tokoh film. Selama kurang lebih tiga puluh menit, penonton diajak melihat kehidupan Nyoman Sutama serta para petani di kawasan Penatih, Denpasar secara lebih dekat. Beberapa gambar close up menambah rincian cerita. Beberapa posisi kamera tampak disamakan dengan penglihatan si tokoh. Misalnnya saat ibu Nyoman Sutama berjalan di sawah atau saat Nyoman Sutama memungut sampah plastik yang menghalau pertumbuhan padinya.

Teknik pengambilan gambar ini tetap memiliki kekurangan. Oleh karena kamera tidak dalam posisi diam akhirnya menjadikan beberapa gambar tidak jernih. Walaupun kejernihan gambar bukan hal mutlak. Tapi jika terlalu banyak gambar yang goyang maka akan mengganggu penonton.

Sejak awal film, penonton langsung disambut hamparan sawah yang digarap Nyoman Sutama dan ibunya. Sesungguhnya penonton tidak akan dapat menebak siapa nama tokoh utama film ini pada permulaan film. Penonton harus mengikuti kisahnya serta mengintepretasi maksud filmnya. Sebagai penonton yang belum membaca sinopsis ataupun melihat cuplikan filmnya, pasti agak sulit menemukan benang merah cerita film ini.

Dwitra mengaku sengaja membiarkan mengira-ngira maksud film ini. Penonton bebas menebak dari ekspresi dan percakapan masing-masing tokoh. Bagian akhir film pun dibuat menggantung, apakah lahan sawah Nyoman Sutama jadi dijual atau tidak. Semua kembali pada penonton.

Sebagian besar percakapan dalam film ini menggunakan Bahasa Bali. Sayangnya, tidak teks terjemahan yang membantu penonton memahami alur cerita. Hal ini menjadi kesulitan tersendiri bagi para penonton yang bukan berasal dari Bali. Beban penonton menjadi lebih berat, bahasanya saja sudah rumit, belum lagi harus memahami ceritanya.

Film Petani Terakhir adalah film penerima dana hibah dari Denpasar Film Festival (DFF) 2015. Agung Bawantara, Direktur Denpasar Film Festival menjelaskan dana hibah diberikan untuk ide cerita terpilih sesuai dengan misi DFF untuk mengungkap masalah sosial. Dwitra memilih kisah Nyoman Sutama karena memiliki kedekatan dengan dirinya, ditambah dengan masalah yang diangkat memang sangat lumrah terjadi di Bali.

  • Judul Film: Petani Terakhir
  • Sutradara: Dwitra J. Ariana
  • Produser: Maria Ekaristi, Agung Bawantara
  • Tahun: 2016
  • Durasi: +/- 30 menit

Tulisan ini ikut serta dalam Lomba Resensi Film Dokumenter yang diselenggarakan oleh Denpasar Film Festival 2016.

 


One thought on “Dilema Sang Petani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *