Borong Barang di Pasar Tanah Abang

Ada yang datang memanggul barang dan pulang membawa borongan (dok. pribadi)

Belanja ke pasar memang rawan nyasar.

Pukul 04.00 pagi, telepon berdering. Rupanya Luh De membangunkan saya untuk pergi bersama ke Pasar Tanah Abang. Kebetulan, ini pasar yang terkenal di daerah dan lokasinya juga tak jauh dari hotel.

Sebenarnya kami berencana pergi pukul 05.00 pagi. Tampaknya Luh De terlalu bersemangat sampai akhirnya membangunkannya saya lebih pagi.

Pukul 05.30, kami tiba di Pasar Tanah Abang dengan menumpang ojek online. Ternyata belum ada yang buka. Beberapa warung emperan sudah mulai sibuk melayani pembeli, termasuk pedagang nasi kuning yang kami tanyai.

“Mulai jam 5 bukanya,” sahutnya.

Alhasil kami menunggu di pintu masuk pasar area Jembatan Metro. Memang semua toko masih tutup. Banyak kuli angkut yang sudah lalu-lalang membawa paket dagangan. Kami pun menghampiri pedagang makanan depan pintu masuk pasar untuk sarapan.

Tepat pukul 05.00, kami mulai memasuki pasar. Satu persatu toko mulai buka. Meskipun sudah banyak pegawai toko yang bersiap duduk di depan toko yang masih tutup.

Kami memutuskan berpencar untuk menghemat waktu. Saya tidak langsung menelusuri toko karena ternyata saya belum menyiapkan uang. Syukurnya, pasar menyediakan anjungan tunai mandiri dari hampir semua bank. Sayangnya ATM ini tidak berpusat di satu lantai. Jadi, wajib memantau penunjuk arah setiap lantai.

Setelah mengambil uang tunai, saya kembali turun ke lantai 1. Sebagian besar toko sudah buka. Bahkan, ada satu toko dekat eskalator yang sudah dikerumuni pembeli.

“Saya Koh… Saya Koh,” teriak para pembeli.

Tampaknya mereka memang pedagang yang sedang cari barang. Sang pemilik toko langsung melempar sepaket pakaian yang telah terbungkus rapi. Setidaknya ini masih beberapa toko yang buka, bagaimana jika sudah semuanya?

Memang luar biasa ramainya. Saya berkeliling Pasar Tanah Abang Jembatan Metro, khusus penjual pakaian. Banyak pilihan yang tentu bikin bingung. Jika berbelanja di sini mesti dipikir baik-baik, kita tidak bisa membeli satuan. Harga barang grosir, sehingga pembeli harus beli minimal 4 atau 6 potong dengan model yang sama.

Barang-barang dagangan siap dijajakan sejak subuh (dok. pribadi)
Barang-barang dagangan siap dijajakan sejak subuh (dok. pribadi)

Saya menyiasatinya dengan memilih model polos yang saya suka dan berpotensi untuk dijual kembali. Harganya memang luar biasa murah, rata-rata di bawah Rp 100.000,00. Oleh karena sudah harga grosir, jadi tidak bisa ditawar lagi.

Semakin siang, suasana pasar tambah ramai. Saat ingin kembali ke titik temu untuk pulang, kami sama-sama bingung. Semuanya tampak sama. Untung saja, saya masih ingat jalur masuk saya melalui Jembatan Metro. Saya hanya perlu mengikuti penunjuk arah keluar via Jembatan Metro.

Voila, akhirnya sampai di titik temu. Pelajaran penting ketika memasuki area atau tempat yang baru pertama kali dikunjungi adalah mempelajari patokan. Setidaknya sangat membantu mengingat arah jalan pulang.

Mari pulang!


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *