Kisah dari Penumpang Sebelah

DSCF7185
Ilustrasi perjalanan (dok. pribadi)

Setiap perjalanan memberikan banyak pelajaran.

Laki-laki berkemeja biru ini duduk gelisah di sebelahku. Ia tampak berharap pesawat segera lepas landas. Namun, tampaknya ada beberapa penumpang yang terlambat. Ada dua perempuan yang duduk di sebelahnya, yang satu sudah mulai terlelap di dekat jendela dan satu lagi adalah aku, sedang membolak-balik halaman majalah.

“Jam berapa ini?,” tanyanya padaku.

Waktu telah menunjukan pukul 16.10, artinya sudah terlambat 10 menit. Raut wajahnya tampak kesal, tapi kemudian ia lebih tenang sambil membaca katalog yang disediakan di kabin.

Sekitar 20 menit kemudian, pesawat akhirnya lepas landas. Jujur, aku tidak memperhatikannya. Tapi, akhirnya ia memulai pembicaraan. Mungkin karena tidak ada bahan bacaan yang menemaninya.

Namanya Ahmad Ali, seorang IT sebuah perusahaan minyak ternama dari Arab Saudi. Setelah berbincang, ternyata tidak tampak mengesalkan seperti yang aku bayangkan. Ali banyak bercerita soal perjalanan yang pernah ia lakukan.

Sejak Ali mulai bekerja, sekitar tahun 1984, sejak itu pula ia memulai perjalanan liburan ke berbagai negara. Cukup banyak negara yang pernah disinggahi, mulai negara-negara di Uni Emirat Arab, seperti Abu Dhabi, Dubai, kemudian London, Amerika Serikat, Mesir, Bahrain, Filipina, Thailand, Malaysia, Singapura hingga Indonesia.

“Aku cukup sering ke Bali, banyak orang mampu berbahasa Inggris,” ungkapnya.

Kemampuan bahasa ternyata menjadi tolok ukurnya mengunjungi sebuah tempat. Meskipun, ada pula hal-hal lain yang tentu menarik perhatiannya, seperti kebiasaan masyarakat yang berbeda dengan negaranya.

Siapapun tahu jika kehidupan Arab Saudi begitu tertutup, terutama para wanita. Hal yang sangat bertolak belakang dengan Bali. Namun, Ali tidak memandang hal itu sebagai hal buruk. Justru ia melihat hal itu sebagai sebuah pelajaran tentang kehidupan bangsa lain.

Perjalanan tampaknya membuka pemikirannya. Ali senang melihat hal-hal baru, terkait dengan kebiasaan dan budaya masyarakat setempat. Selain itu, perjalanan juga berfungsi untuk menenangkan pikiran. Ali selalu punya waktu untuk berlibur sendiri, meskipun ia sudah berkeluarga dengan enam anak. Lebih tepatnya, Ali selalu memisahkan liburan sendiri dan keluarga.

“Kita harus punya waktu untuk menyegarkan pikiran tanpa ada pekerjaan dan keluarga,” ujarnya.

Ali juga pernah membawa serta anak istrinya berlibur ke Bali. Penampilan istrinya sangat tertutup. Sesampai di Bali, istrinya pun kaget dengan kehidupan masyarakat yang jauh berbeda dengan negaranya. Ali pun berkelakar pada istrinya,”Jika seandainya aku pergi ke Bali sebelum menikahimu, pasti aku sudah menikah di sini.”

Ya, mungkin Bali memang surga. Tapi sebaiknya tak terlena dengan keindahan negeri sendiri. Mari kunjungi surga-surga lainnya sambil belajar bahwa diri kita tidak hidup sendirian. Perbedaan itu pasti ada, tapi bukan berarti tak bisa hidup bersama. Kalau masih ada yang menunjukan fanatisme terhadap golongan atau agama, mungkin karena dia kurang piknik.

Jadi, kapan kita liburan?


2 thoughts on “Kisah dari Penumpang Sebelah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *