Solusi Transportasi Meski Kontroversi

Naik Uber atau taksi konvensional adalah pilihan, sama-sama kena macet kok.
Naik Uber atau taksi konvensional adalah pilihan, sama-sama kena macet kok. (dok. pribadi)

Perlu kendaraan untuk bepergian atau antar jemput, tapi tak ada kendaraan? Kini cukup buka aplikasi lalu pesan armada. Jika banyak armada di sekitar pengguna, tak sampai satu menit, sopir beserta armadanya siap menjemput.

Semenjak layanan transportasi berbasis aplikasi online populer di Indonesia, berbagai reaksi bermunculan. Banyak orang yang terbantu karena sistem yang lebih mudah, terbuka dan aman. Jauh berbeda dengan layanan transportasi publik yang kerap rawan kriminalitas.

Pengguna layanan ini memang diuntungkan. Tapi bagaimana dengan penyedia layanan transportasi yang sudah ada sejak dulu? Layanan transportasi umum, seperti taksi, ojek pangkalan, mobil sewa dan usaha perjalanan wisata yang paling terdampak.

Di Bali, para pengemudi mobil sewaan dan taksi bersatu untuk ‘melawan’ layanan transportasi online ini. Contohnya area Canggu (Kabupaten Badung) dan Ubud (Kabupaten Gianyar), ada tulisan larangan bagi pengemudi layanan transportasi online. Sehingga, para pengemudi ini harus berhati-hati atau menghindari area itu sekalian.

Saya sendiri sudah mencoba beberapa layanan transportasi online ini, salah satunya Uber. Tentu saja hanya sekali waktu, karena saya sudah punya kendaraan pribadi (baca: motor). Meskipun sedang kontroversi, Uber boleh jadi pilihan jika sedang tak ada kendaraan.Untuk naik Uber, kita harus download aplikasi. Setelah itu, registrasi dan pilih metode pembayaran. Saya mulai menggunakan Uber pada 29 Januari 2016, metode pembayaran yang tersedia hanya melalui kartu kredit. Metode pembayaran tunai hanya 50% dan tersebar secara acak. Tapi, untuk yang belum punya kartu kredit, kini penumpang Uber sudah bisa bayar tunai.

Uber memberlakukan tarif sewa armada, jarak dan waktu perjalanan. Daftar tarif selengkapnya bisa dilihat di situs Uber Indonesia.

Bagaimana rasanya naik Uber?

Ini komentar jujur berdasarkan pengalaman saya menikmati Uber. Bukan bermaksud mengajak atau melarang naik transportasi online ini.

Naik Uber itu mudah. Penumpang Uber cukup mengunduh aplikasi pada ponsel pintar dan registrasi. Lalu, pilih metode pembayaran yang diinginkan. Di akhir perjalanan, ada invoice atau struk yang dikirimkan ke email. Jumlah tarif yang dikenakan juga rinci.

Screenshot_2016-02-01-18-29-05
Invoice dikirim langsung ke email penumpang. (dok.pribadi)

Rasanya menumpang Uber sama dengan menumpang taksi atau mobil. Rasanya memang seperti bos, punya sopir pribadi. Tapi namanya juga naik mobil, tetap saja harus bersabar jika menghadapi jalanan macet.

Uber cukup membantu ketika penumpang harus ambil barang dalam jumlah banyak, termasuk belanja bulanan. Apalagi kalau tidak punya kendaraan roda empat.

Begitu juga kalau ingin pergi beramai-ramai, misalnya kondangan atau antar jemput. Kalau penumpangnya banyak, bayarnya bisa patungan. Jadi lebih irit dan dandanan tetap kinclong.

Uber, pilihan menarik untuk jemput seseorang ke bandara (dok. pribadi)
Uber, pilihan menarik untuk jemput seseorang ke bandara (dok. pribadi)

Lalu, untuk yang sedang punya jadwal kerja padat, naik Uber bisa memangkas waktu perjalanan menjadi lebih efektif. Waktu perjalanan dapat dimanfaatkan untuk bekerja, bahkan tidur selama perjalanan. Hal ini mungkin berlaku bagi penumpang yang harus berkendara dalam waktu satu jam atau lebih.

Tapi, penumpang wajib waspada jika sopir Uber belum kenal arah tujuan. Meski sudah berbekal GPS, penumpang perlu memberi arahan menuju tempat tujuan yang lebih cepat dan tepat. Tidak semua sopir Uber tahu jalan.

Kehadiran Uber menjadi penting saat musim hujan. Jika ingin bepergian saat hujan, Uber boleh jadi pilihan. Apalagi kalau pergi jarak jauh.

Armada Uber di Bali masih berpusat di area Denpasar, Kuta dan Ubud. Sasaran utamanya memang turis. Jangan harap bisa menemukan Uber di Singaraja atau Karangasem.

Uber sejatinya beroperasi 24 jam, tapi tidak merata. Jarang sekali menemukan armada saat subuh atau dini hari. Solusinya, penumpang bisa janjian dengan sopir Uber yang pernah mengantar.

Beberapa kali naik Uber, hampir semua sopir Uber ramah dan bersahabat, kadang-kadang kepo. Meski sebutannya sopir dan penumpang, tapi kita bisa saling bertukar cerita layaknya teman.

Uber dan layanan transportasi online lainnya memang masih terbentur masalah legalitas. Jika di Jakarta mereka harus punya izin transportasi umum, di Bali mereka harus punya izin perjalanan wisata. Meski demikian, layanan ini boleh jadi solusi, baik yang ingin cari kerja sampingan maupun yang cari transportasi alternatif.


3 thoughts on “Solusi Transportasi Meski Kontroversi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *