Di Balik Kisah Penjaga Mangrove Desa Suwung Kauh

2013-05-30 10.40.46
Persembahan sebelum memasuki kawasan hutan bakau (dok. pribadi)

Seberapa buruknya manusia memperlakukan alamnya, maka alam akan berlaku sama pada manusia.

Keberadaan hutan mangrove sangat berguna untuk pertahanan wilayah pesisir dari bencana abrasi pantai, tsunami dan intrusi air laut. Tapi sayang hutan mangrove semakin menyempit dengan berbagai pembangunan, misalnya pembangunan jalan raya hingga pemanfaatan kawasan mangrove sebagai daya tarik wisata. Sebenarnya hal itu wajar dilakukan akibat dari kebutuhan mobilitas masyarakat Bali yang semakin tinggi.

Sekalipun pembangunan secara fisik terus terjadi di sekitar mangrove, sistem pengetahuan tradisionalnya masih terjaga. Seperti yang terjadi dalam masyarakat Desa Suwung Kauh. Mereka hidup di sekitar hutan mangrove. Mereka pun tumbuh besar bersama folklor di dalam hutan mangrove.

Folklor yang dipercaya masyarakat Desa Suwung Kauh berupa mitos Ratu Niang Sakti. Masyarakat setempat percaya akan wujud Ratu Niang Sakti sebagai nenek yang menguasai kawasan mangrove. Pohon-pohon mangrove memiliki akar yang besar bagai kaki-kaki serdadu yang turut mengiringi Ratu Niang Sakti.

Mitos kehidupan makhluk halus di hutan mangrove Desa Suwung Kauh bermula ketika Danghyang Nirartha datang ke Bali. Jro Mangku Gde Ketut Soebandi, penulis Babad Warga Brahmana: Pandita Sakti Wawu Rawuh menyebutkan Danghyang Nirartha adalah seorang tokoh suci Hindu yang dikenal dengan gelar Padanda Sakti Wawu Rawuh. Danghyang Nirartha bersama anak istrinya mengungsi ke Bali karena masuknya agama Islam ke Kerajaan Majapahit.

Perjalanan Danghyang Nirartha ke arah timur banyak mengalami peristiwa gaib. Danghyang Nirartha tiba-tiba bertemu dengan seekor naga yang mulutnya menganga bagaikan goa. Danghyang Nirartha masuk ke mulut naga dan menemui telaga berisi bunga teratai yang sedang mekar di dalamnya. Bunga teratai itu berwarna hitam, merah dan putih. Danghyang Nirartha pun memetik bunga teratai yang ada di telaga.

Ketika Danghyang Nirartha keluar dari perut naga dengan mengucapkan mantra ayu wredhi. Tiba-tiba naga tersebut menghilang tanpa bekas. Wajah Danghyang Nirartha berubah-ubah dan menyeramkan, terkadang merah, hitam dan putih silih berganti. Hal ini menyebabkan anak istrinya lari tunggang langgang dan masuk ke dalam hutan tanpa tujuan dan tercerai-berai.

Danghyang Nirartha terkejut karena tidak menemukan anak istrinya. Dengan perasaan cemas, Danghyang Nirartha mencari anak istrinya ke dalam hutan dan hari pun mulai gelap. Danghyang Nirartha pertama kali menemukan istrinya seorang diri di dalam hutan. Istrinya menjelaskan peristiwa menakutkan yang telah membuat ia dan anak-anaknya lari ke dalam hutan.

Setelah berkumpul kembali dengan anak istrinya, Danghyang Nirartha melanjutkan perjalanan ke arah timur. Ketika dalam perjalanan, salah satu anak Danghyang Nirartha bernama Ida Rai Istri menghilang di sebuah hutan yang sepi bernama Suwung. Ida Rai Istri diberi gelar Batari Lingsir atau Batari Ratu Niang Sakti dan berstana di Pura Tanah Kilap atau Candi Narmada, Desa Suwung.

Di sekitar Pura Tanah Kilap terdapat hutan mangrove yang luas. Dikisahkan Batari Ratu Niang Sakti mempunyai prajurit-prajurit yang menjaga hutan mangrove. Masyarakat Desa Suwung meyakini keberadaan prajurit Batari Ratu Niang Sakti sebagai penjaga hutan mangrove, sehingga mereka pantang untuk melakukan perbuatan tercela yang akan membuat hutan mangrove menjadi rusak.

Mitos Ratu Niang Sakti menyebabkan hutan mangrove begitu sakral sekaligus melahirkan pantangan-pantangan. Adapun pantangan-pantangan ketika berada di dalam hutan mangrove, di antaranya tidak boleh berkata kasar, tidak boleh merusak hutan, serta tidak boleh mengambil sumber daya alam berlebihan dari dalam hutan. Pantangan ini berlaku dengan maksud menjaga perasaan Ratu Niang Sakti. Tapi, sebenarnya ada kearifan ekologi yang tersimpan di balik pantangan-pantangan itu.

Pantangan mengenai kata-kata kasar umumnya berlaku pada anak-anak. Apabila ada anak yang mengeluarkan kata-kata kasar seperti “nas keleng”, anak tersebut akan pangling, tersesat di hutan manggrove. Interpretasi penulis, orang tua hendak mendisiplinkan anak-anaknya melalui pantangan tersebut. Anak-anak sebagai pewaris kekayaan hutan manggrove harus paham dengan alamnya. Bermula dari hal kecil, anak-anak menjadi terbiasa tidak semena-mena memperlakukan hutan manggrove. Masyarakat awam kadang tidak paham dengan peran mangrove baginya. Tapi sebenarnya masyarakat setempat memegang prinsip bahwa  hutan manggrove ialah partner hidup bersama yang sudah semestinya dijaga.

Kekayaan sumber daya alam di dalam hutan mangrove memang menggiurkan. Tak heran jika banyak oknum yang ingin memanfaatkan hal ini. Bagi masyarakat setempat, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan juga sebuah pantangan. Terlebih lagi jika eksploitasi itu berujung pada kerusakan hutan mangrove. Sebelum bekerja sebagai pegawai kantoran atau pengusaha, masyarakat desa Suwung menggantungkan hidupnya dari manggrove. Masyarakat setempat datang ke hutan mangrove dan mengambil sumber daya alam secukupnya. Secara tidak langsung, masyarakat tengah membantu menyeimbangkan ekosistem di wilayah muara, yakni dengan membantu mengendalikan populasi binatang-binatang yang ada di dalam hutan manggrove.

Di dalam hutan manggrove ikan, kepiting, udang, dan rajungan hidup berdampingan. Tanaman air yang ada di sana merupakan produsen, yang sesuai dengan rumusan piramida makanan, jumlahnya paling banyak. Kemudian terdapat kepiting, udang, dan ikan-ikan besar yang menjadi konsumen tingkat I, yang memakan rumput, atau unsur-unsur protein dalam air. Sudah barang tentu jumlahnya tidak boleh lebih tinggi dari produsen. Manusia sebagai konsumen tingkat II mengkonsumsi ikan-ikan, udang, dan kepiting yang sudah besar. Menangkap ikan pun masih dengan cara yang sederhana, memancing. Sehingga yang didapat adalah ikan-ikan yang sudah besar, dan tentu dengan jumlah yang tidak terlalu banyak.

Pada uraian di atas, masyarakat desa Suwung telah turut ambil bagian menyeimbangkan piramida makanan. Pantangan eksploitasi berlebihan atas sumber daya alam hutan mangrove seolah mengajarkan kebersamaan yang tercipta di antara masyarakat serta menghilangkan sifat ketamakan.

Pantangan-pantangan tersebut telah membiasakan masyarakat setempat untuk menjaga kelestarian hutan mangrove. Sesungguhnya, hutan mangrove sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat. Menurut Indriyanto (2010 : 68), ekosistem hutan mangrove memiliki fungsi yang sangat kompleks, antara lain sebagai peredam gelombang laut dan angin badai, pelindung pantai dari proses abrasi dan erosi, penahan lumpur dan penjerat sedimen, penghasil detritus, sebagai tempat berlindung dan mencari makan serta tempat berpijak berbagai spesies biota perairan payau, sebagai tempat rekreasi dan penghasil kayu. Di samping itu, ekosistem hutan mangrove juga sebagai habitat berbagai satwa liar, terutama spesies burung dan mamalia, sehingga kelestarian hutan mangrove akan berperan dalam melestarikan berbagai satwa liar tersebut.

Manusia akan selalu hidup berdampingan dengan lingkungan. Dalam konteks antropologi ekologi Rambo menegaskan bahwa, antara “sistem sosial” dan “ekosistem” terjalin hubungan timbal balik. Manusia dan lingkungan akan saling menjaga dengan kearifan ekologi. Bentuknya berupa sistem pengetahuan yang mendorong manusia secara kolektif turut menjaga lingkungannya.

By Diah

Belajar antropologi budaya di Universitas Udayana, berkiprah di bidang media dan komunikasi, aktif menulis untuk media jurnalisme warga BaleBengong.net.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *