Kenapa Saya Bergabung dengan Sobat Budaya?

GSDB compress

Tahun ini adalah tahun sibuk untuk saya. Meski demikian saya bersedia meluangkan waktu untuk peduli dengan budaya Indonesia.

Pada awalnya saya mengetahui gerakan bernama Gerakan Sejuta Data Budaya (GSDB) di program Sarah Sechan. Ada Ipang Lazuardi yang hadir sebagai bintang tamu acara itu. Ipang juga membahas kegiatannya sebagai Duta Data Budaya. Ketika melihat itu, saya menjadi tergerak ingin bergabung. Saya mencari banyak informasi terkait gerakan ini. Ternyata, gerakan ini tak sekedar jadi. Gerakan ini digawangi Yayasan Sobat Budaya, pusatnya di Bandung Fe Institute. Bahkan, ada beberapa figur publik yang ikut mendukung gerakan ini selain Ipang, seperti Ayushita Nugraha, Melanie Soebono, Pandji Pragiwaksono, Ramon Y. Tungka dan lain-lain. 

Jadi, kenapa saya tertarik? Bukan karena artis pendukungnya saja, tapi ada banyak alasan lain.

Saya kuliah di program studi antropologi budaya. Jelas ya? Belajar tentang budaya. Di kampus, saya mempelajari bahwa manusia tidak akan hidup tanpa budaya, sedangkan budaya hanya akan hidup di dalam kehidupan manusia. Budaya itu pasti ada jika ada masyarakat pendukungnya. Budaya juga sangat luas, tidak terbatas pada seni saja. Unsur-unsur budaya secara universal menurut Koentjaraningrat meliputi bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, kesenian dan sistem religi. Budaya berkaitan dengan cara hidup seseorang berdasarkan daerahnya. Cara hidup yang dimaksud adalah cara berpikir, berperilaku dan berkarya. Bayangkan seberapa luasnya budaya Indonesia. Saking luasnya, kita belum tentu tahu semuanya. Maka dari itu, pendataan budaya sangat penting.

Pendataan budaya juga baik untuk bahan kajian selanjutnya. Sayangnya data-data budaya itu tidak tersimpan dengan apik. Gerakan ini melakukan pendataan budaya lalu memasukkannya ke dalam website budaya-indonesia.org (disebut Perpustakaan Digital Budaya Indonesia). Sekilas konsep website ini mirip dengan wikipedia.org. Ada 14 sektor data budaya di dalam website ini, mulai dari Alat Musik, Cerita Rakyat, Makanan Minuman, Motif Kain, Musik dan Lagu, Naskah Kuno dan Prasasti, Ornamen, Pakaian Tradisional, Permainan Tradisional, Produk Arsitektur, Ritual, Seni Pertunjukan, Senjata dan Alat Perang, Tarian, Tata Cara Pengobatan dan Pemeliharaan Kesehatan. Pembagian 14 sektor ini sangat tepat. Ini sekaligus menjadi pembelajaran bahwa kajian dalam bidang budaya itu sangat luas. 

Pendataan budaya tidak hanya dilakukan oleh yayasan atau artis-artis ibukota saja. Yayasan Sobat Budaya membentuk perwakilan setiap daerah mulai dari tingkat Kota, Kabupaten dan Provinsi. Sampai saat ini, saya mencatat ada 30 perwakilan daerah yang sudah terbentuk, termasuk Bali. Pada akhirnya gerakan ini dapat menjadi milik seluruh warga Indonesia. 

Setelah terkumpul, data-data budaya akan didaftarkan ke World Intellectual Property Organization (WIPO). Hal ini menjadi bentuk perlindungan hukum bagi budaya Indonesia. Tentu masih ingat ada banyak isu klaim budaya Indonesia oleh negara lain. Sebelum itu terjadi lagi, mari mendata budaya kita sendiri. 

Tertarik untuk menjadi volunteer Sobat Budaya Bali? Ayo daftarkan diri dengan mengirim CV ke email sobatbudayabali[at]gmail[com]. Untuk daerah lainnya, silahkan cek keberadaan komunitas ini di daerahmu melalui twitter. Jika belum ada, silahkan hubungi @sobatbudaya untuk bentuk komunitas ini di daerahmu. Mari mendata budaya!

Published
Categorized as Cerita

By Diah

Belajar antropologi budaya di Universitas Udayana, berkiprah di bidang media dan komunikasi, aktif menulis untuk media jurnalisme warga BaleBengong.net.

1 comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *