Miskin Karena Upacara Adat, Mungkinkah?

Kemiskinan Bali Karena Upacara Adat Screenshot

Masalah kemiskinan terasa nyata di depan mata. Apalagi di Bali. Di balik kemewahan dan keindahan pariwisata Bali, masih banyak keluarga miskin menanti kehidupan yang lebih layak. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali merilis profil kemiskinan di Bali Maret 2014. Berdasarkan data tersebut, jumlah penduduk miskin mencapai 185,20 ribu orangĀ atauĀ sebesar 4,53 persen. Hal ini menunjukkan kenaikan 0,04 persen dari jumlah penduduk miskin pada September 2013 yang berjumlah 182,77 ribu orang.

Kenaikan jumlah kemiskinan ini dimuat pada sindonews.com pada awal bulan Juli 2014. Judulnya cukup memancing perhatian, Kemiskinan di Bali Akibat Banyaknya Upacara Adat. Berita ini memicu kemarahan beberapa kawan facebook saya. Mereka menghujat penulis dan membahas taksu. Semua orang tahu bahwa Bali terkenal dengan kelestarian tradisi dan keindahan alamnya. Tapi ternyata salah satu daya tarik wisatanya menyebabkan penduduknya miskin.

Kita patut mencermati isi berita keseluruhan dan berkaca. Upacara adat di Bali tak pernah main-main. Berbagai upacara adat di Bali memang memiliki fungsi dan tujuan sendiri. Inilah yang disebut tradisi. Jika tradisi tak dijalani maka akan ada ketakutan penduduk itu sendiri. Ada keterikatan emosional yang melatarbelakangi tradisi dan penduduknya. Sehingga, pelaksanaan tradisi itu masih ada sampai sekarang. Di sisi lain, dana untuk menggelar tradisi semakin mahal. Dulu, semua bahan-bahan untuk tradisi telah tersedia di alam sekitar. Mayoritas penduduk Bali bertani dan berladang. Lahan pertanian dan ladang pun masih luas. Berbeda dengan keadaan saat ini di mana kita sudah terbiasa membeli semua alat dan bahan. Komersialisasi upakara (persembahan upacara adat di Bali) memang menguntungkan penduduk di Bali golongan menengah ke atas. Rata-rata penduduk golongan tersebut sibuk dengan pekerjaan yang menyita waktu. Akhirnya mereka tidak sempat menyiapkan upakara.

Lalu bagaimana dengan penduduk golongan menengah ke bawah? Mereka memanfaatkan raskin (beras untuk penduduk miskin) untuk upakara, bukan dikonsumsi sehari-hari. Selain pelaksanaan tradisi upacara adat, penduduk Bali punya tradisi sosialisasi pula. Inilah yang kadang menyebabkan pengeluaran menjadi semakin besar.

Saya merasa tak perlu emosi berlebihan dengan berita yang dimuat sindonews.com. Ini hanya persoalan pemilihan judul yang kontroversial untuk memancing perhatian pembaca. Namun, jika melihat secara keseluruhan, ada narasumber yang jelas berbicara soal itu. Jadi berita ini bukanlah opini penulis. Judul menjadi simpulan penulis atas informasi dari narasumber. Saya juga sependapat dengan narasumber pada berita itu. Salah satu dari sekian banyak penyebab kemiskinan di Bali adalah upacara adat. Bukan satu-satunya. Namun, dari berita itu sudah sepatutnya kita berkaca. Hidup di Bali sebagai orang Bali tak akan pernah lepas dari upacara adat. Semua berkaitan dengan “taksu”, asal kata dari “aksi” artinya melihat. Pandangan tak hanya fisik semata, tetapi seluruh tradisi dipandang multidimensi, dengan renungan rohani yang mendalam. Sehingga timbul perasaan tenang dan damai ketika melaksanakan tradisi upacara adat.

Upacara adat salah satu norma budaya, artinya berjalan luwes dengan zaman. Tak ada budaya yang statis. Sehingga, upacara adat pun mesti bergerak mengikuti perkembangan penduduknya. Ada beberapa hal yang patut disesuaikan. Jangan mudah terprovokasi dengan publikasi, apalagi baru baca judulnya.

By Diah

Belajar antropologi budaya di Universitas Udayana, berkiprah di bidang media dan komunikasi, aktif menulis untuk media jurnalisme warga BaleBengong.net.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *