Tentang Orang yang ‘Menyenangkan’

Manusia selalu hidup bersama dengan manusia lainnya. Interaksi selalu ada dalam keseharian-nya. Semua berjalan secara alami dengan berbagai kepentingan. Ada yang berinteraksi karena hubungan darah dan keluarga. Ada pula yang berinteraksi karena teman sekolah atau kerja. Bahkan, ada yang mulai berinteraksi dengan berkenalan. Mereka yang belum pernah bertemu dan tahu nama umumnya akan berkenalan. Proses ini menjadi suatu hal yang penting. Pertemuan awal dengan seseorang biasanya akan menjadi penilaian bagi kita. Kesan pertama yang menyenangkan maka kita akan melihat dia adalah seorang yang baik menjadi kawan. Sebaliknya, jika kesan pertama yang menyebalkan maka akan membuat kita selalu merasa jengkel. Padahal belum tentu seseorang yang dimaksud benar-benar baik atau pun buruk.

Umumnya, seorang menyenangkan adalah murah senyum, murah hati, mampu membuat suasana yang menyenangkan dengan perbincangan yang asyik. Setiap orang memiliki kriteria soal orang yang menyenangkan. Lalu bagaimana kalau kita sudah merasa menjadi orang yang menyenangkan, tapi ada orang yang tak menilai seperti itu?

Senang adalah hal yang relatif. Setiap orang mempunyai nilai kesenangan yang berbeda. Ketika seseorang merasa sudah menjadi orang yang menyenangkan, ada sebagian orang yang merasa ia begitu menyebalkan. Ya, karena semua orang boleh mempunyai penilaian atas apapun. Tidak ada standar yang mutlak mengenai ‘orang menyenangkan’. Bagi penulis, siapapun dapat menjadi orang yang menyenangkan atau menyebalkan. Jadi, abaikan kata orang lain yang menjelekkan kita. Kita yang lebih tahu tentang diri kita sendiri. Jadilah ‘orang menyenangkan’ dimulai dari diri sendiri.

By Diah

Belajar antropologi budaya di Universitas Udayana, berkiprah di bidang media dan komunikasi, aktif menulis untuk media jurnalisme warga BaleBengong.net.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *