RESENSI: Kisah Hidup Orang Bali dengan Orang Cina di Bali

Sampul Buku 'Dari Tatapan Mata Ke Pelaminan Sampai di Desa Pakraman'

  • Judul Buku : Dari Tatapan Mata Ke Pelaminan Sampai di Desa Pakraman
  • Penulis : Ni Luh Sutjiati Beratha, I Wayan Ardika dan I Nyoman Dhana
  • Penerbit : Udayana University Press, Denpasar
  • Cetakan ke- : I, 2010
  • Tebal Buku : viii + 148 hlm

Masyarakat Indonesia hidup bersama dengan banyak perbedaan etnis, ras dan agama. Meskipun berbeda, Indonesia tetap memandang masyarakatnya sejajar dengan asas Bhinneka Tunggal Ika. Jika benar demikian, maka sebenarnya Indonesia telah memiliki doktrin multikulturalisme di mana masyarakatnya hidup damai dalam perbedaan itu. Namun kenyataan berkata lain, orang Cina di Indonesia belum dapat merasakan itu. Di berbagai daerah, orang Cina sering menjadi sasaran tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang bukan Cina. Sebagian masyarakat Indonesia masih menganggap orang Cina bukan penduduk asli negara ini, meskipun mereka telah mengidentifikasi diri sebagai golongan peranakan.

Keberadaan orang Cina di Bali ternyata tidak mengalami pertentangan. Hubungan orang Cina dan orang Bali cukup harmonis. Terlebih lagi, ada banyak pasangan dari kedua etnis ini yang akhirnya menikah. Perkawinan antaretnis ini bukan sesuatu yang mudah, karena pada dasarnya masing-masing etnis telah menetapkan aturan untuk memilih pasangan dari etnis yang sama. Namun, pasangan-pasangan ini mampu menjalani perkawinan antaretnis dengan mencapai integrasi sosial yang kuat di Desa Pakraman.

Tiga dosen dari Universitas Udayana menuliskan kisah hidup orang Bali dan orang Cina di Bali ini dalam buku ‘Dari Tatapan Mata Ke Pelaminan Sampai di Desa Pakraman’. Mereka adalah Ni Luh Sutjiati Beratha, I Wayan Ardika dan I Nyoman Dhana. Ketiga dosen tersebut bernaung di bawah Fakultas Sastra (kini Fakultas Sastra dan Budaya) Universitas Udayana. Buku ini berawal dari laporan penelitian yang dibiayai oleh Lembaga Penelitian Universias Udayana pada tahun 2010. Mereka mengharapkan buku ini dapat menjadi contoh pola kebudayaan pluralistas yang tidak mengandung konflik, sehingga tercipta kedamaian.

Buku ini membicarakan pandangan dan perlakuan orang Bali terhadap orang Cina dan sebaliknya, serta menafsirkan implikasi perkawinan antaretnis dan keberadaan mereka di Desa Pakraman. Penulis buku ini meneliti di tiga lokasi, yaitu Desa Baturiti (Kabupaten Tabanan), Desa Carangsari (Kabupaten Badung) dan Desa Padang Bai (Kabupaten Karangasem). Mereka menggunakan metode Snowball Sampling untuk menentukan informan kunci. Metode sering digunakan dalam penelitian ilmu budaya karena ibarat bola salju yang menggelinding dan membesar, maka semakin banyak pilihan informan yang didapatkan. Teknik wawancara yang mendalam mampu melahirkan data kualitatif termasuk cerita di balik kehidupan informan (life history). Seluruh kajian penelitian ini terangkum dalam buku setebal 148 halaman ini.

Pada dasarnya, topik penelitian ini sangat menarik. Permasalahan yang diungkapkan para penulis buku ini pun sangat jelas. Pemilihan informan dalam buku ini sangat tepat dan lengkap, terdapat Pria Bali yang menikah dengan wanita Cina dan Pria Cina yang menikah dengan wanita Bali. Kelengkapan data dan informan juga didukung dengan judul buku yang mengigit. Bahkan, judul buku ini tidak seperti judul penelitian. Hal ini memudahkan pembaca untuk mengetahui gambaran isi buku ini.

Namun, sayang judul buku yang baik tidak sejalan dengan penataan sampul dan isi bukunya. Sampul buku yang didominasi warna merah dan gambar Klenteng memang mencirikan orang Cina sebagai salah satu informan. Namun, tampilan kedua orang dalam buku ini tidak akan cukup mencerminkan adanya hubungan orang Bali dan orang Cina. Penulis menyarankan salah satu foto yang mencerminkan adanya akulturasi budaya Bali dan Cina dalam lampiran buku menjadi gambar dasarnya. Penataan isi buku juga masih kurang menyenangkan pembaca karena masih menggunakan bentuk laporan ilmiah. Pembaca dari kalangan awam tentu ingin lebih banyak mengetahui kisah hidup di balik terjadinya perkawinan antaretnis ini dibandingkan melihat data-data kuantitatif. Selain itu, buku ini perlu mendapatkan penyuntingan yang lebih baik karena masih banyak kesalahan ketik di dalamnya.

Penulis merekomendasikan buku ini bagi budayawan, antropolog serta masyarakat luas. Buku ini cukup sukses menggambarkan kehidupan orang Bali dan orang Cina yang harmonis. Kebersamaan mereka tidak hanya di dalam lingkungan keluarga, namun turut berkontribusi di Desa Pakraman. Buku ini layak menjadi percontohan bahwa perbedaan dapat melahirkan kebersamaan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *