Radhar Panca Dahana: Nasionalisme itu Dusta

Diskusi Budaya bersama Dewa Gede Palguna dan Radhar Panca Dahana di Bentara Budaya BaliIndonesia merupakan negara kepulauan dengan 1.128 suku bangsa (data Sensus Penduduk 2010, Badan Pusat Statistik). Masyarakat Indonesia hidup bersama dalam budaya yang berbeda-beda. Maka dari itu, Bhineka Tunggal Ika dicetuskan para pemimpin negara pada awal kemerdekaan sebagai semboyan. Semboyan ini menjadi harapan bersatunya ribuan suku bangsa menjadi satu dengan rasa nasionalisme. Benarkah Indonesia telah memiliki semangat nasionalisme?

“Kalau ada yang mengatakan negara ini dibangun atas dasar nasionalisme, itu adalah dusta,”kata Radhar Panca Dahana dalam Diskusi Budaya di Bentara Budaya Bali, kemarin (19/2).

Nasionalisme tidak ada dalam tradisi Indonesia. Radhar menyatakan Indonesia tidak terbentuk karena rasa nasionalisme, justru karena semangat kedaerahan. Nasionalisme adalah barang baru bagi Indonesia. Istilah ini baru didengungkan puluhan tahun yang lalu, saat tahun terbentuknya Boedi Oetomo yaitu 1908.

Terlebih lagi sistem demokrasi yang terasa pincang di negara ini. Indonesia seolah memaksakan diri menganut sistem demokrasi, Radhar menambahkan sistem pemerintahan yang paling sesuai bagi Indonesia saat ini adalah sistem yang berbasis kearifan lokal. Setiap suku bangsa memiliki tradisi yang dijalankan sejak lama, sehingga telah mengakar dalam kehidupan mereka. Sebenarnya, kearifan lokal itu yang menjadi cara-cara terbaik masing-masing suku bangsa untuk menangani masalah di daerahnya.

“Kearifan lokal adalah yang cukup baik digunakan sebagai sistem pemerintahan. Berikanlah keleluasaan bagi masing-masing daerah untuk membangkitkan kearifan lokalnya. Pada dasarnya, mereka punya cara-cara original  untuk menangani masalah kontemporer,”ungkap Radhar menutup diskusi yang bertajuk ‘Tinjauan Kritis Gerakan Mahasiswa Indonesia, Menyemai Demokrasi yang Berbudaya’.

Tulisan ini diterbitkan dalam: http://sosbud.kompasiana.com/2014/02/20/radhar-panca-dahana-nasionalisme-itu-dusta-634392.html

By Diah

Belajar antropologi budaya di Universitas Udayana, berkiprah di bidang media dan komunikasi, aktif menulis untuk media jurnalisme warga BaleBengong.net.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *