Selamat Ulang Tahun Trisma Denpasar

Baju seragam gombrong, rok panjang, tiap tahun naik gunung. Hanya ada di Trisma.

17 Januari. Tanggal bersejarah lahirnya sebuah sekolah favorit di Kota Denpasar. Sekolah itu adalah SMA Negeri 3 Denpasar alias Trisma. Sekolah ini favorit? Iya favorit bagi sebagian pelajar SMP di Denpasar tentunya. Tapi, bukan karena saya jebolan sekolah ini lalu mengatakan sekolah ini favorit. Awalnya, sekolah ini bukan impian saya.

Pernah membayangkan sekolah dengan baju seragam yang kebesaran? Belum lagi rok yang lima jari di bawah lutut dan rambut dikepang satu bagi perempuan. Sedangkan, laki-laki mengenakan celana panjang berpotongan lurus dan sama sekali tidak boleh ciut. Siapapun yang akan lulus SMP tidak akan berpikir masa SMA dihabiskan di sekolah seperti itu. Tapi ini benar-benar nyata di Trisma. Dan ternyata itu jadi tempat saya belajar saat SMA.

Sederhana

Meskipun, penampilan anak Trisma itu cupu dan kuper (ini bagi anak sekolah lain), banyak hal yang didapatkan. Trisma membiasakan anak didiknya untuk sederhana. Seberapapun kekayaan, tidak ada atribut mewah ketika masuk sekolah. Sepengetahuan saya, hanya Trisma yang tidak memperbolehkan anak didiknya membawa handphone ke sekolah. Bahkan sebelum saya masuk ke sekolah ini, anak Trisma tidak boleh membawa sepeda motor ke sekolah. Makanya, Trisma punya slogan kring…kring…gowes…gowes… karena hanya boleh naik sepeda.¬†Kesederhanaan ini membuat saya (dan teman-teman yang lain juga pasti), tidak saling berlomba memperlihatkan atau memamerkan milik masing-masing.

Trisma Tampak Atas (foto oleh Ni Putu Ary Pratiwi)
Trisma Tampak Atas (foto oleh Ni Putu Ary Pratiwi)

Belajar di Ekskul

Trisma cukup unggul di dua bidang, baik akademis dan non-akademis. Trisma juga yang membuat saya berkenalan dengan banyak orang hebat di ekstrakurikuler jurnalistik, Madyapadma. Jurnalistik di Trisma tidak hanya melulu soal kording (koran dinding), tetapi juga majalah, film, tv, radio, dan sebagainya.

Ekspedisi Nusa Penida 2008 bersama Madyapadma (foto oleh I Nyoman Hartawan)

Mendaki Gunung

Trisma mempunyai tradisi unik setiap semester, yaitu pendakian gunung ramai-ramai. Semua siswa wajib ikut. Kalau saja Trisma tidak memaksa saya mendaki, mungkin saya tidak akan pernah mendaki. Pendakian gunung itu membuat kita lebih dekat dengan alam dan membangun kerja sama antarsiswa. Pokoknya semua harus sampai puncak.

Selamat ulang tahun ke-37 Trisma. Semoga tetap menjalani tradisi unik-unik tadi. Meskipun banyak perubahan fisik, ideologi Trisma jangan sampai ikut berubah hanya karena zaman.

By Diah

Belajar antropologi budaya di Universitas Udayana, berkiprah di bidang media dan komunikasi, aktif menulis untuk media jurnalisme warga BaleBengong.net.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *