Tentang Skeptis

Metta Dharmasaputra, seorang jurnalis yang ahli di bidang ekonomi. Metta telah banyak melahirkan tulisan mengenai pencucian uang dan korupsi dengan teknik jurnalisme investagasi. Hari Rabu, 18 September 2013, Metta menyampaikan pengalaman jurnalisme investigasi di hadapan 26 peserta Bali Journalist Week 2013. Peserta yang hadir saat itu adalah mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa se-Indonesia.

Hal menarik yang diungkapkan Metta adalah bersikap skeptis. Dalam materi yang ditayangkan pada layar presentasi, terdapat dua resep dari Goenawan Mohamad mengenai skeptis. Pertama, kebenaran bisa jadi ada di tempat-tempat yang kita tidak suka. Kedua, media bukanlah pemegang monopoli kebenaran.
Mengapa menarik? Seorang jurnalis investigasi harus melakukan riset/penelitian sebelum menggali data hingga menemukan fakta. Ketika menemukan suatu data pun, seorang jurnalis investigasi tidak boleh langsung mempercayai hal itu sebagai suatu fakta atau kebenaran. Sehingga, skeptis menjadi sikap wajib para jurnalis investigasi.
Jika penulis membandingkan dengan seorang antropolog, tentunya tidak jauh berbeda. Seorang antropolog juga wajib skeptis ketika melakukan penelitian di lapangan. Tapi, apakah seorang antroplog sama populernya dengan jurnalis investigasi? Sayangnya, saat ini antropolog kurang mendapat perhatian. Antropolog justru lebih mampu secara teoritis dibandingkan jurnalis. Sehingga, baik antropolog maupun masih calon antropolog hendaknya mengembangkan diri.
Roberto Hutabarat dalam suatu diskusi dengan penulis pernah mengatakan, lulusan antropologi itu tidak siap pakai, tapi siap berkembang. Antropologi adalah ilmu yang interdisipliner dan dapat berkecimpung dengan bidang ilmu lainnya. Jangan berdiam diri di dalam kandang, ayo keluar dan berkembang sebagai seorang antropolog!

0 thoughts on “Tentang Skeptis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *