Yang Penting Kualitas

Setiap universitas pasti memiliki organisasi mahasiswa. Itu sudah jelas. Entah di tingkat universitas, fakultas, sampai ke jurusan. Kampus tanpa organisasi sepertinya akan mati. Hal ini mungkin saja akan benar-benar terjadi di Universitas Udayana. Mahasiswa sudah berkurang minatnya masuk organisasi. Jika semakin berkurang, apakah nantinya akan tidak ada sama sekali mahasiswa yang mau berorganisasi? Ataukah ini hanya masa-masa pahit organisasi mahasiswa Universitas Udayana?

Kenyataannya, memang mahasiswa sudah mulai meninggalkan organisasi mahasiswa. Banyak alasannya. Mulai dari kesibukan organisasi. Mahasiswa melihat organisasi begitu sibuk dengan rapat, kegiatan, dan terkadang demo. Walaupun tidak semua organisasi memiliki kegiatan yang sama. Hanya saja paradigma berpikir mahasiswa saat ini melihat organisasi terlalu sibuk. Namanya manusia perlu hiburan. Mahasiswa yang sudah terkungkung dengan kuliahnya, tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk organisasi. Lebih baik jalan-jalan, atau pacaran saja.

Selain itu, faktor akademis. Dalam hal ini karena perkuliahan. Tugas kuliah yang menumpuk dan jadwal kuliah yang padat membuat mahasiswa takut berorganisasi. Merasa takut akan nilai yang menurun. Apalagi tidak semua dosen mau menerima mahasiswa berorganisasi. Kebanyakan tidak mau tahu kegiatan mahasiswa selain kuliah. Alhasil, hanya menjadi mahasiswa “kupu-kupu” alias kuliah pulang – kuliah pulang.
Keberadaan SKP (Satuan Kredit Partisipasi) membunuh minat berorganisasi. Memang setiap fakultas mempunyai kewenangan masing-masing soal SKP. Namun, jika ditelusuri lebih dalam SKP organisasi terasa lebih kecil daripada kegiatan lainnya. Organisasi mempunyai waktu yang panjang. Sementara itu, kegiatan yang lain seperti seminar, kepanitiaan, dan sebagainya dengan waktu yang jauh lebih singkat bisa memperoleh banyak SKP. Cukup dengan ikut seminar atau panitia suatu acara saja. Sesuai dengan pola pikir manusia saat ini, yaitu “praktisisme”.
Akibatnya, jelas organisasi mahasiswa menjadi sepi peminat. Memiliki sedikit anggota. Ketika akan mengadakan kegiatan tertentu yang membutuhkan banyak orang, organisasi mahasiswa memanfaatkan SKP. Hampir bahkan seluruh kegiatan perekrutan panitia berisi tulisan “Full SKP” pada pamfletnya. Sepertinya pihak penyelenggara acara sudah hilang akal untuk merekrut panitia. Apalagi, kebanyakan mahasiswa (baru) berduyun-duyun ikut kegiatan karena ada embel-embel SKP.
Dengan mengikuti organisasi, mahasiswa dapat lebih mengenal kampusnya sendiri. Karena saat itu, akan banyak kegiatan yang berhubungan dengan pihak pemerintahan kampus. Misalnya ketika akan menyelenggarakan kegiatan. Pihak organisasi akan langsung berhubungan dengan pihak berwenang dalam pemerintahan kampus. Dari Rektor sampai Pembantu Rektor. Ditambah lagi, mahasiswa akan lebih mengetahui isu-isu hangat yang sedang berkembang di kampus. Menambah wawasan seputaran kampus tepatnya.
Sebenarnya masih ada cara untuk menumbuhkan minat mahasiswa berorganisasi. Ada yang agak memaksa dan ada pula yang halus. Kalau dirasa perlu, berlakukan saja aturan wajib berorganisasi. Tanpa ikut organisasi, maka tidak dapat menyusun skripsi. Tidak perlu mengiming-imingi SKP untuk merekrut panitia ini-itu. Namun, tentu saja harus ada pihak berwenang yang menyetujui hal ini.
Cara yang lebih halus, setiap anggota organisasi mempunyai tugas tambahan yang merata untuk semua jabatan, yaitu aktif mengajak teman seangkatan atau adik kelasnya untuk berorganisasi. Tidak mengajak secara langsung. Lebih halus lagi dari itu, membuat seseorang tertarik ikut tanpa dipaksa ikut. Sehingga setiap anggota organisasi tidak hanya melakukan tugasnya dalam organisasi saja.
Banyak mahasiswa yang enggan berorganisasi karena melihat ada kelompok-kelompok tertentu yang mendominasi organisasi tersebut. Apalagi lebih sering mahasiswa mengikuti kegiatan karena ajakan teman. Perlu diingat, tidak semua orang mudah bersosialisasi di lingkungan baru. Maka, organisasi bersangkutan harus “jemput bola” kalau ingin mendapat anggota yang lebih banyak.
Namanya minat, itu adalah hak setiap orang. Jika memang sedikit peminat organisasi, maka sumber daya di dalamnya harus benar-benar dimanfaatkan. Belum tentu banyak anggota akan berpengaruh pada kesuksesan organisasi. Justru dengan banyak anggota, akan sulit memberdayakan sumber daya yang ada di dalamnya. Daripada banyak anggota ysng hanya untuk sekedar ikut tanpa minat, lebih baik sedikit anggota yang benar-benar berminat. Organisasi itu harus berkualitas, bukan berkuantitas!
Diterbitkan dalam Tabloid Anggota Magang Pers Mahasiswa Akademika, UNUD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *