Setelah Vakum, Kelas Bahasa Dibuka Kembali

Banyak yang bilang kelas Bahasa bukan pilihan yang tepat dalam memilih jurusan. Sebagian besar orang berpendapat bahwa jurusan IPA adalah yang terbaik. Sedangkan, jurusan IPS adalah jurusan yang dipenuhi anak – anak bandel. Jurusan Bahasa pun diragukan karena tak memiliki kesempatan yang besar meraih perguruan tinggi yang baik, seperti halnya jurusan IPA. Sampai suatu ketika, Kepala SMAN 3 Denpasar ingin membuka kelas Bahasa, apalagi setelah 2 tahun vakum tak membuka kelas Bahasa.

“Sekolah akan membuka kelas untuk jurusan Bahasa kalau memenuhi syarat 12 orang,” begitu janji bersyarat Ketut Suyastra selaku kepala sekolah.

Pembagian raport pun tiba. Bagi siswa kelas 1 yang memilih jurusan Bahasa dikumpulkan di laboratorium Kimia. Ternyata, baru terkumpul 10 orang dan kekurangan 2 orang lagi untuk mencapai target sekolah. Untuk mensiasati hal itu, para guru wali memanggil beberapa anak lain yang menjatuhkan pilihan kedua untuk jurusan Bahasa. Siapa yang tahu jika ada yang berminat pindah ke jurusan Bahasa.
I Made Adnyana, selaku Wakasek Kurikulum bertanya satu persatu pada anak – anak itu apakah ingin bertahan pada pilihan pertama atau pindah ke pilihan kedua yakni kelas bahasa. Hampr semuanya menjawab ‘tidak’ dengan mantap. Tinggallah Diah yang semakin bimbang. Entah jurusan mana yang akan dipilih, IPA atau Bahasa. Somada, wali kelasnya mendekatinya seraya mencoba memberi konsultasi.
“Sebenarnya saya ingin masuk kelas bahasa. Hanya saja saya memiliki kendala untuk pelajaran bahasa Jepang dan juga takut menutup kesempatan untuk masuk perguruan tinggi negeri,”jelas Diah.
Somada pun memberi penjelasan jika memang mempunyai minat pada jurusan Bahasa, mengapa harus memaksakan diri untuk jurusan IPA. Jurusan Bahasa di Trisma tak akan menutup kesempatan siswa – siswanya. Selain itu, belajar bahasa Jepang pasti memerlukan proses cukup panjang.
Akhirnya, Diah berubah pikiran untuk masuk kelas Bahasa. Tentunya menambah jumlah siswa menjadi 11 orang. Formasi awal yakni, Anjani, Lila, Sora, Novi, Oka, Dewa, Agas, Dayu Gayatri, Keshia, Ayu, dan Diah. Mereka tetap harus mencari 1 orang lagi untuk mencapai 12 orang.
“Kalau belum meencapai 12 orang, kemungkinan besar tidak dibuka. Jadi silahkan pilih jurusan cadangan seandainya jika kelas bahasa ditutup,”terang Adnyana.
Pernyataan Adnyana membuat Ayu tak kuasa menahan air mata. Tekad kuatnya memilih jurusan bahasa tak dapat digoyahkan. Bahkan, ia mengaku akan pindah sekolah jika kelas bahasa tidak jadi dibuka. Setelah pembagian raport berakhir, kabar buruk terdengar. Kelas Bahasa tidak jadi dibuka karena belum memenuhi target. Novi pun protes ke ruang guru hingga air matanya tak dapat dibendung lagi. Semenjak kabar buruk tersebut sebagian besar calon siswa kelas Bahasa mulai pesimis.
Hari demi hari libur berlalu dengan cepat. Adalah Dycia yang akhirnya ingin bergabung ke kelas Bahasa. Untuk itu, ia datang ke sekolah untuk memberi konfirmasi pada Adnyana.Ternyata Adnyana sedang tidak ada di tempat. Kabar buruk mulai terdengar bahwa kelas bahasa tidak dibuka. Alasannya, banyak siswa yang keluar dari jurusan Bahasa. Hingga kini yang tersisa hanya 7 orang. Jauh dari target sekolah.
Diah dan Dycia mencoba mengumpulkan calon siswa Bahasa lainnya. Mencari konfirmasi apakah benar ada 4 orang yang keluar dari kelas Bahasa. Setelah ditelusuri, ada 11 orang yang sudah pasti masuk kelas Bahasa. Keshia keluar dari kelas bahasa karena ia ingin mengambil jurusan Manajemen Hotel saat kuliah nanti. Menurut orang tuanya, ia harus masuk jurusan IPS. Tinggallah Anjani, Lila, Sora, Novi, Oka, Dewa, Agas, Dayu Gayatri, Ayu, Diah serta Dycia yang baru bergabung.

 

Sisa – sisa liburan pun terpakai untuk menunggu konfirmasi dari Adnyana, Setiap hari calon anak – anak bahasa berkumpul dan menunggu kejelasan jurusan Bahasa. Walaupun tak semua calon anak Bahasa datang, tak mengurangi tekad untuk memperjuangkan kelas Bahasa.

 

Setiap kali mereka ke sekolah tak pernah membuahkan hasil. Adnyana tak pernah mau ditemui untuk diminta konfirmasi. Sibuk dan sibuk. Begitu alasannya. Lelah hanya menunggu, calon anak bahasa pun memilih menunda protes mereka. Namun, tanpa rencana Ayu dan Diah mencoba menjebak Adnyana untuk menanyai kejelasan kelas Bahasa. Tetap saja belum berhasil sebelum 12 orang terkumpul. Adnyana pun menyarankan mereka dan calon anak Bahasa lainnya untuk bicara langsung dengan Ketut Suyastra, karena ialah yang berhak mengambil keputusan.
Tanggal 14 Juli 2008 tahun ajaran baru dimulai. Hal ini berarti pembagian kelas baru sesuai dengan jurusan masing – masing. Semua pembagian kelas itu terpampang jelas di papan pengumuman di dekat ruang BK. Dan ternyata tidak ada jurusan Bahasa. Semua calon anak Bahasa tersebar di kelas IPA dan IPS. Kontan hal ini membuat semua calon anak Bahasa berang. Kebetulan 4 orang diantaranya, Ayu, Diah, Dycia, dan Lila, sedang berada di Nusa Penida untuk melakukan ekspedisi Madyapadma (Journalistic) dan baru kembali tanggal 15 Juli keesokan harinya. Jadi 7 orang saja yang berada di sekolah.
Agas mencoba berbicara dengan Adnyana, namun tak ada hasil. Terpaksa Agas dan yang lainnya menunggu agar semua calon anak Bahasa terkumpul. Sekembalinya 4 orang tadi dari Nusa Penida, langsung saja tanggal 16 Juli 2008 mereka berniat bertemu langsung dengan Ketut Suyastra untuk mempertimbangkan keputusannya.

 

Rencana ini bukannya tanpa kendala. Awalnya hanya beberapa anak saja yang berkumpul di Bale Bengong. Beberapa saat kemudian terkumpul 9 orang. Namun, nantinya terpecah lagi. Ada yang ke kantin, ada yang sibuk sendiri, ada juga yang mencari guru wali untuk mendampingi mereka. Hingga pukul 10.00 WITA, 9 orang calon anak Bahasa ini langsung menemui Ketut Suyastra didampingi oleh Arsih Nasvi, guru Bahasa Jepang dan Made Adnyana. Memang belum lengkap. Anjani yang belum datang dan Dewa yang menjadi Panitia MOS tidak mungkin ditunggu lebih lama lagi.
Sampai di depan ruang Kepala Sekolah, tiba – tiba semuanya terdiam dan sedikit ragu untuk masuk ruangan itu. Setelah di dalam dan duduk di sofa, Arsih mengawali pembicaraan, disusul dengan argumen dari beberapa calon anak Bahasa. Di tengah perbincangan hangat tersebut, Anjani yang terlambat tergopoh – gopoh memasuki ruang Kepala Sekolah.10 orang berhasil terkumpul untuk hari ini. Tanggapan Ketut Suyastra sama saja dengan Made Adnyana.
“Terimakasih untuk kalian sudah mau untuk memperjuangkan kelas Bahasa. Tapi, apakah tidak lebih bagus lagi jika anda – anda ini mencari 1 orang lagi untuk mencapai target sekolah? Jika masing – masing dari anda mencari lagi 1 orang saja itu akan lebih mudah. Sekolah masih mau menunggu sampai hari Jumat untuk konfirmasinya. Supaya pada hari Sabtu, jadwalnya sudah dapat disusun,” terang Ketut Suyastra mencoba mencari jalan tengah.
Kemungkinan diadakannya kelas Bahasa masih diragukan. Jadi atau tidaknya belum pasti dan membuat semuanya ragu untuk bertindak. Mana mungkin mencari 1 orang lagi pada situasi MOS seperti ini. Belum lagi, tidak semua siswa berada di dalam kelas. Ada yang di luar kelas, ada yang pulung lebih dulu, ada pula yang berdiam di perpustakaan. Kesulitan pun bertambah. Lelah. Mereka lelah untuk mencari lagi. Kemungkinan yang ada hanya mencoba membujuk siswa yang berminat. Namun, tetap saja tak ada hasil. Mereka beralasan tidak diijinkan oleh orang tua dan takut jika kelas Bahasa tidak akan memberi kesempatan sebaik anak IPA maupun IPS. Padahal itu salah besar.
Sabtu, 19 Juli 2008 Arsih membawa kabar yang cukup baik. Kabarnya, Ketut Suyastra setuju untuk membuka kelas Bahasa dalam jumlah 11 orang dengan syarat tidak mendapatkan kelas permanen untuk sementara. Made Adnyana pun menyuruh beberapa dari mereka mengkonfirmasi pada Dewa Meles, petugas Tata Usaha untuk kebenaran daftar calon anak Bahasa. Namun, mereka belum boleh terlalu percaya. Karena hal ini belum pasti.
Hari Senin pekan berikutnya, tanggal 21 Juli 2008, tibalah saat – saat yang mendebarkan. Semua calon anak Bahasa berkumpul di Bale Bengong menunggu pengarahan Made Adnyana. Made Adnyana menyerahkan selembar kertas kepada mereka. Kertas tersebut adalah daftar absensi kelas XI Bahasa atau IPB. Akhirnya mereka resmi menjadi anak Bahasa. Banyak yang tak percaya. Contohnya Dayu Gayatri yang mengira hal ini hanyalah mimpi.
Dibukanya kelas Bahasa tidak serta merta tanpa resiko dan tanggung jawab. Resikonya mereka belum memperoleh kelas yang layak untuk belajar, karena keterbatasan ruangan di SMAN 3 Denpasar. Terpaksa mereka menempati Laboratorium Bahasa untuk sementara. Selain itu, seluruh anak Bahasa wajib mengemban tanggung jawab yang cukup besar, yaitu mengulang kembali kejayaan Trisma lewat kelas Bahasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *