Sertifikat, Bayaran Untuk Sebuah Partisipasi

Kampus tanpa mahasiswa tentu tidak ada artinya. Mahasiswa harus mengisi kampus dengan berbagai kegiatan. Dalam keadaan formal, kampus menjadi tempat mencari ilmu bagi mahasiswa. Di luar jam itu, mahasiswa pun masih bertemu dalam kegiatan nonakademis baik tingkat universitas, fakultas, hingga jurusan. Organisasi kemahasiswaan seperti BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas atau Fakultas, Senat Fakultas, HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) dan lain sebagainya merupakan wadah para mahasiswa melakoni berbagai kegiatan itu.

Kegiatan yang melibatkan mahasiswa ini tentu bermaksud baik. Tujuannya adalah mempererat tali persaudaraan antarmahasiswa dan membina ketrampilan organisasi. Namun, apa jadinya jika mahasiswa tak tertarik lagi turut aktif dalam kegiatan kampus? Jelas acara tidak berhasil karena tidak ada yang hadir. Lalu, siapa yang jadi tumbalnya? Mahasiwa baru alias Maba jawabannya.
Maba masih bergantung dengan mahasiswa senior. Utamanya masih bergantung pada sertifikat kelulusan pada saat masa orientasi. Sertifikat inilah yang menjadi salah satu syarat kelulusan. Mahasiswa senior sengaja menahan sertifikat tersebut hingga hampir setahun lamanya. Sertifikat itu menjadi jaminan agar maba aktif dalam kegiatan-kegiatan kemahasiswaan.
Tentu banyak kegiatan yang mengharuskan mahasiswa datang ke suatu acara dengan iming-iming pembagian sertifikat. Mungkin benar ada pembagian, tapi kalau tidak? Mahasiswa merasa rugi dan tertipu. Tapi, bila memang ada pembagian sertifikat tersebut, mahasiswa hanya menjadi pamrih. Secara tidak langsung akan mendidik mahasiswa menjadi ‘matre’. Meskipun bukan uang, namun sertifikat tersebut lebih berharga dari uang. Mahasiswa tidak memiliki niat yang tulus baik hadir sebagai partisipan atau panitia sekalipun.
Masalah lainnya terrlihat pada perekrutan panitia suatu kegiatan. Setiap pengumuman perekrutan, tulisan yang paling mencolok adalah adanya imbalan berupa poin partisipasi atau biasa disebut SKP (Satuan Kredit Partisipasi). Organisasi kampus tampaknya takut tidak mendapatkan panitia yang akan menjalankan acara. Kalau acara tidak berjalan, maka program kerja yang telah disusun tidak berhasil. Mau tak mau, iming-iming sertifikat partisipasi menjadi imbalan.
Minimnya mahasiswa dalam kegiatan kampus akhir-akhir ini bukan hanya karena malas. Mahasiswa baru umumnya masih berada pada masa peralihan antara sekolah ke kuliah. Jelas mereka yang belum terbiasa berkegiatan semacam itu akan merasa malas. Penyebab lainnya karena mahasiswa senior kadang bersikap arogan dan seolah berkuasa. Mahasiswa baru pun enggan bergabung dengan mahasiswa senior termasuk bekerja sama menggelar acara.
 
Akibatnya, sertifikat sengaja diperlambat pembagiannya. Agar mahasiswa baru menjadi aktif di kampus. Padahal, cara seperti ini membuat mahasiswa tidak memiliki keinginan penuh dengan acara itu. Hanya karena sertifikat semata. Mahasiswa dididik menjadi pamrih.
Mampukah organisasi kampus membuat acara tanpa iming-iming sertifikat? Penulis merasa belum mampu. Ketakutan akan sepinya partisipan masih ada di benak mereka. Kalau memang tidak mampu menghapus iming-iming, bagaimana kalau tidak membuat acara sekalian? Mahasiswa fokus pada kuliah saja.
Mahasiswa seharusnya menjadi generasi yang memiliki pikiran intelektual. Kegiatan kampus sangat bermanfaat. Tapi, belum tentu mahasiswa mau melakoninya secara tulus. Sikap mahasiswa senior juga perlu diubah. Sebagai mahasiswa yang lebih dulu berada di kampus itu, sebaiknya merangkul mahasiswa baru agar tidak kagok dengan kegiatan-kegiatan kampus. Bukannya malah mempermainkan sertifikat mereka. Sebagai mahasiswa baru juga harus menyadari perbedaan antara sekolah dan kampus. Maka tak perlu lagi berbagai iming-iming untuk partisipasi.

Telah diterbitkan dalam Majalah Kanaka, Pers Mahasiswa Fakultas Sastra, UNUD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *